Sabtu, 24 Agustus 2013

Angkoooottttt!!!!



Sejuta Cerita di Angkutan Umum
Pagi ini saya berangkat ke kantor dengan menggunakan kendaraan umum, mobil angkutan. Dulu mobil angkutan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan sehari-hari saya. Saat SD kelas 2 saya sudah naik angkot (ankutan kota) untuk pergi sekolah dengan tarif hanya 100-200 rupiah sekali naik, murah sekali bukan? Naik angkot kali ini dikarenakan motor yang biasa saya gunakan untuk pergi ke kantor digunakan adik dan ibu saya ke luar kota.
Mobil angkutan yang saya naiki hari ini sedikit longgar, mungkin karena sudah di luar jam berangkat sekolah, namun ternyata di dalam angkot ada beberapa penumpang berseragam PRAMUKA tingkat SMP. Saya cukup menikmati perjalanan kali ini karena saya tidak sedang dikejar waktu. Berada dalam angkot seolah saya kembali ke masa lalu di mana saya selalu dipertemukan dengan mobil angkutan setiap harinya. Ketika berangkat dan pulang sekolah bersama teman-teman.
Ada banyak cerita yang terjadi sepanjang perjalanan dalam angkot, mulai dari angkot yang lelet, ugal-ugalan, ada yang mabuk kendaraan dsb. Ada sebuah kejadian yang yang saya alami saat naik angkot, apa ya lucu, menegangkan atau apalah yang pantas untuk menggaambarkannya whatever  saat itu sore hari ketika pulang les di sekolah saya naik angkot, dalam perjalanan tiba-tiba angkot berhenti, saaat itu saya belum mengetahui apa yang sedang terjadi sampai angkot itu berhenti. Baru kemudian supir turun dan mengecek kendaraannya baru diketahui bahwa bannya lepas, O my God dan untungnya saat itu jalanan sepi dan tidak sampai terjadi kecelakaan. Kok bisa yaaaa??? I dont know
Kali ini kejadian yang menyebalkan yang terjadi saat pulang sekolah juga. Angkot dalam keadaan hampir penuh. Di tengah jalan supir menaikkan penumpang lagi, seorang nenek berpakaian kuno, menggunakan bawahan kain batik (jarit) dengan kebaya model jaman dahulu dan menggunakan selendang sebagai penutup kepalanya. Dia duduk tepat di sebelah kiri saya (seingat saya). Saya tidak terlalu memperhatikan nenek itu, seingat saya nenek itu turun terlebih dahulu dibanding saya. Ketika nenek itu turun you know what? Nenek itu meninggalkan bekas di baju saya berupa kotoran hewan sepertinya kotoran sapi Oh no... dan yang paling menyebalkan, seragam itu harus digunakan lagi pada keesokan harinya. Ini nenek habis main sama sapi kok nggak ganti baju siiiiyyy.....
Dalam perjalanan di angkot bersama teman-teman selalu ada saja yang dibicarakan. Jika kita duduk di paling belakang kadang kala kita membicarakan pengendara di belakang angkot yang sedang kami naiki, jika angkot sedang sepi terkadang kami membuat gaduh di dalamnya, maklumlah masih anak SMA. Seringnya saya naik angkot membuat saya hafal dengan para sopir dan kernet angkot. Waktu itu saya ingat ada kernet yang mirip dengan Nardji, kernet itu suka menaikkan tarif sesukanya sehingga tarifnya jauh lebih mahal dari yang biasa. Jika biasa dari sekolah menuju rumah tarifnya Rp.1000 tapi jika naik angkot dengan kernet “Nardji” itu bisa jadi Rp.1500 atau bahkan Rp.2000, perhitungan??? Tentu saja saat itu pemasukan hanya diperoleh dari uang saku yang diberikan orang tua dan jumlahnya sudah sesuai dengan kebutuhan setiap harinya. Waktu itu “Nardji” menjadi kernet angkot H jurusan Mojowarno-Jombang, saat itu sedang ngetem  mencari penumpang dan menawarkan kepada saya dan teman-teman saya, dan kami kompak menolaknya, dan angkotnya menjadi sepi penumpang. Saya lebih baik terlambat pulang daripada harus membayar dengan tarif yang lebih mahal. Setelah beberapa lama tidak pernah bertemu dengan si “Nardji” namun saat itu sudah pindah angkot jurusan lain, saya dan teman-teman hanya tertawa dan berpikir kemungkina dia dipecat oleh sopir angkot yang dulu karena adanya dia banyak penumpang yang tidak mau naik.
Keberadaan angkot saat ini hampir tersisih karena banyak orang yang sekarang lebih memilih naik kendaraan pribadi. Mungkin memang ada beberapa yang membutuhkan jasa angkot ini seperti saya pagi ini yang membutuhkan jasa angkot karena motor saya sedang digunakan adik saya ke luar kota dan motor saya yang lain tidak memenuhi standar jadi saya tidak mungkin menggunakannnya untuk berangkat kerja. Sepertinya judul di atas agak berlebihan hehehe tapi memang sebenarnya ada banyak cerita ketika saya menggunakan jasa angkot, tapi sepertinya tidak mungkin saya share di sini. tunggu cerita saya selanjutnya yaaa :D

2 komentar:

  1. Tidaaak!! kotoran sapi, tidaaak!!!
    oya, ini entah mata saya yang memang kurang sehat atau apa, tapi lain kali pakai font standar saja, ya. Arial atau times new roman, kalo font aneh-aneh mata saya keriting bacanya. *maklum, mata minus* hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe untungnya itu beberapa tahun silam terjadinya. saya pake macem2 biar g kayak skripsi neng hehehe tapi thanks masukannya

      Hapus